UN Resmi Jadi Tiket Masuk PTN
Tahun 2009 sebetulnya wacana untuk menjadikan UN sebagai tiket masuk PTN sudah menyeruak. Namun, banyak kalangan termasuk beberapa rektor PTN menolak wacana tersebut. Pasalnya kredibilitas UN masih dipertanyakan dengan maraknya berbagai kecurangan yang sampai dengan detik ini tidak terungkap.
Banyak kalangan menyayangkan keputusan pemerintah dalam hal ini Kemendikbud yang terkesan memaksakan. Sebagian besar masyarakat menolak pelaksanaan UN. Bahkan di tingkat MA seharusnya UN di tunda sampai benar-benar terjadi pemerataan pendidikan.
Tapi putusan MA pun dilabrak. UN tetap jalan dengan berbagai kasus serupa yaitu maraknya kecurangan. Semakin ketat peraturan justru kecurangan semakin canggih dengan menggunakan berbagai cara yang tidak diduga sebelumnya. Mulai dari menggunakan pensil sebagai alat penyimpan kunci jawaban hingga menyebarkan kertas kecil berisi jawaban.
PTN yang awalnya menolak sepertinya harus menelan pil pahit karena diduga menerima keputusan tersebut dalam tekanan. Tidak mungkin PTN mau menerima UN sebagai syarat masuk PTN. Jelas dulu yang paling lantang berteriak melakukan penolakan adalah beberapa rektor dari Universitas Favorit.
Banyak yang menyaangkan keputusan ini direalisasikan. Ada kekhawatiran justru yang masuk PTN melalui UN bukanlah siswa yang benar-benar pintar tapi justru mereka yang lebih cerdik dan pandai mengerjakan soal UN dengan berbagai macam cara yang tidak halal.
Peraturan tetap peraturan. Mungkin ujung tombak satu-satunya ada di tangan anak itu sendiri. Apakah harus berbuat curang demi tiket PTN atau harus berusaha jujur dan menutup peluang untuk diterima di PTN?